Iklan

iklan

pasang

Minggu, 17 Agustus 2014

Tentang Kecamatan Genteng

Kali ini saya akan menceritakan asal usul kecamatan GENTENG. tulisan berikut ini bukan saya sendiri yang menuliskan dikarenakan saya tidak pernah menau asal usul genteng dan juga tidak pernah mendapatkan cerita dari teman-temanku yang tinggal di daerah genteng. baiklah langsung saja saya copas kan dari wikipedia.
Ada dua versi yang berkembang dalam penamaan Kecamatan Genteng. Versi pertama menyebutkan bahwa nama Genteng sendiri berasal dari kata Ganteng yang dulu nama dari seorang Pangeran atau tokoh terkemuka di wilayah itu. Dari cerita yang berkembang, Pangeran Ganteng ini merupakan sosok pahlawan yang gigih mengajak masyarakat berperang melawan Kompeni pada zaman penjajahan. Gugur dalam suatu perperangan, pengikutnya lantas memakamkan tokoh ini sebuah wilayah yang sekarang dikenal sebagai Dusun Krajan yang berada di Desa Genteng Wetan dan hingga sekarang masih bisa ditemui. Karena pengucapannya, akhirnya kata Ganteng yang merujuk pada sang Pangeran akhirnya menjadi Genteng dan dipergunakan hingga sekarang menjadi nama kota.
Versi kedua menyebutkan bahwa nama Genteng dihubungkan dengan keberadaan sentra industri genting di daerah tersebut di masa lalu. Bahkan sampai tahun 80an industri genting ini masih ada dan memiliki pasar di lingkup lokal dan kota – kota lain, dan salah satu pabrik besar yang saat ini masih bisa dilihat walaupun hanya reruntuhan bangunannya adalah Pabrik Genteng Karang Pilang yang letaknya di Jl. KH. Hasyim Asy'ari tepatnya di RW. 12 Dusun Krajan.

Sabtu, 16 Agustus 2014

Tentang Glenmore Banyuwangi

Saya akan mengawali tulisanku dengan membahas tentang desa kelahiranku. saya akan bercerita sedikit tentang apa yang saya ketahui tentang kecamatan GLENMORE. baiklah sebenarnya ini tidak terlalu unik untuk saya bahas tetapi ini cukup membuat saya penasaran. kenapa kecamatan ini di kasih nama glenmore? agak susah menjawabnya. konon katanya dulu ada seseorang warga skotlandia yg mempunyai perkebunan tembakau yang sangat besar sehingga nama kecamatan ini terdengar seperti nama kota-kota yang ada di eropa sana. tetapi ada cerita lain yang mengatakan bahwa nama glenmore ini meniru dari sebuah kota Nova Scotia yaitu sebuah kota yang ada di negara kanada. wah kok bisa ea? saya juga bingung padahal bangsa indonesia ini tidak pernah di jajah oleh negara skotlandia maupun kanada. anehnya lagi menurut cerita nenek saya bahwa Glenmore ini dahulunya tanahnya dikuasai oleh orang belanda yang bernama (Tuan Porten). nahh disini letak kebingungan saya dalam mencari asal usul nama glenmore ini. saya dari kecil tinggal disini tidak ada yang bisa menjelaskan asal usul nama glenmore ini. dikarenakan tidak ada catatan sejarah satupun yang tertinggal hanya saja disini ada peninggalan rumah-rumah belanda yang cukup banyak dan juga peninggalan berupa kereta api yang mana kereta api tersebut sekarang di pajang di jalan dekat pabrik perkebunan yang ada di glenmore.menariknya lagi di glenmore ini dataran ato tanahnya tidak rata. saya juga pernah mendengar asal usul nama glenmore menurut guru Smp saya dulu. guruku mengatakan bahwa nama glenmore itu diambil dari bahasa belanda yang berarti berbukit-bukit. sebenarnya ini cukup masuk akal karena di glenmore banyak sekali bukit-bukit. yahh mungkin cuman secuil pengetahuanku tentang kelahiranku ini. saya sampai sekarang masih mencari-cari. yasudah cukup segini saya bercerita tetapi sebelumnya saya mohon maap dikarenakan tulisanku dalam kalimat-kalimatku ini tidak rapi dan mungkin sulit dimengerti. semoga yang membaca memaklumi kebodohanku ini dan semoga bermanfaat bagi kalian yang baca. yaahh meskipun saya yakin kalimat-kalimatku ini tidak ada manfaatnya sama sekali bagi pembaca. ehehe

Tentang Kalibaru, Banyuwangi

Bentang alam dan budaya

Kecamatan Kalibaru adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Banyuwangi yang berbatasan dengan Kabupaten Jember. Lokasi perbatasan berada di Gunung Gumitir dan ditandai dengan patung penari Gandrung yang bertuliskan Selamat Datang di Banyuwangi, tepatnya sebelum kelokan terakhir sisi timur Jalur Mrawan. Kecamatan Kalibaru dilewati oleh jalur pantai selatan Pulau Jawa yang merupakan satu-satunya akses antara Kabupaten Banyuwangi dan Jember.
Pusat keramaian Kecamatan Kalibaru berada di Pasar Kalibaru Wetan yang terletak di Kota Kalibaru Wetan. Selain itu, Kecamatan Kalibaru memiliki tempat wisata dan peristirahatan seperti Hotel Margo Utomo, Kalibaru Cottages, Panorama Raung, dan Hotel Jember Asri. Kecamatan Kalibaru juga merupakan wilayah banyak memiliki perkebunan kopi karena letaknya yang berada di dataran tinggi. Perkebunan tersebut adalah Perkebunan Malangsari (terkenal sebagai penghasil Kopi Lanang, jenis kopi robusta dengan aroma khas), Glen Falloch dan Watulempit yang tergabung dalam PTPN XII. Perkebunan Nusantara XII (Persero) memiliki tempat wisata perkebunan yang dilengkapi restoran dan taman bermain keluarga.

Sektor Pariwisata

Pada tahun 2011, perkembangan pembangunan sektor pariwisata di Kecamatan Kalibaru belum banyak mengalami perubahan yang signifikan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, sektor pariwisata di Kecamatan Kalibaru masih mengandalkan obyek-obyek wisata alam karena keindahannya. Beberapa tempat yang merupakan obyek wisata di Kecamatan Kalibaru adalah obyek wisata Air Terjun Wonorejo dan tour wisata lori di Stasiun Kalibaru yang semuanya terletak dalam wilayah Kalibaru Wetan. Karena keindahannya, banyak wisatawan mancanegara yang mengunjungi dan menginap di beberapa hotel yang terdapat di Kecamatan Kalibaru.


Sektor Pertanian

Salah satu faktor pendukung berjalannya roda perekonomian di Kecamatan Kalibaru adalah sektor pertanian. Sektor pertanian terbesar pada tahun 2011 adalah pertanian tanaman [[padi[[ sawah. Selain itu, terdapat juga pertanian tanaman palawija seperti jagung, ubi jalar, ubi kayu, kacang tanah, dan perkebunan kopi, cengkeh, kelapa.[1]
Produktivitas tanaman padi sawah di kecamatan kalibaru pada tahun 2011 sebesar 21.724,83 ton dengan luas tanam sebanyak 3.603 ha, sedang produktivitas tanaman jagung sebesar 1.980,64 ton, ubi kayu sebanyak 1.944,43 ton, ubi jalar sebanyak 1.657,27 ton dan kacang tanah sebanyak 73,65 ton. Untuk perkebunan kopi, produktivitasnya sebanyak 1160,07 ton, cengkeh sebanyak 12,06 ton, dan kelapa sebanyak 206,68 ton

Sektor Industri

Keberadaan perusahaan industri pengolahan juga berpengaruh pada kehidupan perekonomian masyarakat Kecamatan Kalibaru karena dapat menyerap tenaga kerja dan sebagai salah satu mata pencaharian masyarakat sekitar usaha industri ini. Pada tahun 2011, tercatat data perusahaan Industri Kecil atau Industri Rumah Tangga sebanyak 420 lokasi dengan usaha terbanyak di Desa Kajar Harjo yaitu sebanyak 144 lokasi. Industri kecil atau rumah tangga terbanyak adalah industri gula merah.
Kecamatan Kalibaru juga memiliki sentra pembuatan barang-barang yang terbuat dari alumunium seperti wajan, panci, dandang dan lainnya, sentra ini dikenal dengan nama Sentra Sayangan.

#SUMBER :  http://id.wikipedia.org/wiki/Kalibaru,_Banyuwangi




Sejarah dan Cikal bakal wong osing/Blambangan

Sejarah Suku Osing diawali pada akhir masa kekuasaan Majapahit sekitar tahun 1478 M. Perang saudara dan pertumbuhan kerajaan-kerajaan Islam terutama Kesultanan Malaka mempercepat jatuhnya Majapahit. Setelah kejatuhannya, orang-orang majapahit mengungsi ke beberapa tempat, yaitu lereng Gunung Bromo (Suku Tengger), Blambangan (Suku Osing) dan Bali.Kedekatan sejarah ini terlihat dari corak kehidupan Suku Osing yang masih menyiratkan budaya Majapahit. Kerajaan Blambangan, yang didirikan oleh masyarakat osing, adalah kerajaan terakhir yang bercorak Hindu.
Kata "Osing" dalam bahasa Osing sendiri bisa diartikan "tidak", sehingga ada anekdot yang mengkisahkan tentang keberadaan orang Osing itu sendiri, ketika orang asing bertanya kepada orang banyuwangi bahwa kalian orang Bali atau orang Jawa? mereka menjawab dengan kata "Osing" yang artinya tidak keduanya.
Dalam sejarahnya Kerajaan Mataram Islam tidak pernah menancapkan kekuasaanya atas Kerajaan Blambangan, hal inilah yang menyebabkan kebudayaan masyarakat Osing mempunyai perbedaan yang cukup signifikan dibandingkan dengan Suku Jawa. Suku Osing mempunyai kedekatan yang cukup besar dengan masyarakat Bali, hal ini sangat terlihat dari kesenian tradisional Gandrung yang mempunyai kemiripan ,dan mempunyai sejarah sendiri-sendiri.
Kemiripan lain tercermin dari arsitektur bangunan antar Suku Osing dan Suku Bali yang mempunyai banyak persamaan, terutama pada hiasan di bagian atap bangunan. Osing juga merupakan salah satu komunitas etnis yang berada di daerah Banyuwangi dan sekitarnya. Dalam lingkup lebih luas. Dalam peta wilayah kebudayaan Jawa, Osing merupakan bagian wilayah Sabrang Wetan, yang berkembang di daerah ujung timur pulau Jawa. Keberadaan komunitas Osing berkaitan erat dengan sejarah Blambangan (Scholte, 1927). Menurut Leckerkerker (1923:1031), orangorang Osing adalah masyarakat Blambangan yang tersisa. Keturunan kerajaan Hindu Blambangan ini berbeda dari masyarakat lainnya (Jawa, Madura dan Bali), bila dilihat dari adat-istiadat, budaya maupun bahasanya (Stoppelaar, 1927). sebagai kelompok budaya yang keberadaannya tidak ingin dicampuri budaya lain. Penilaian masyarakat luar terhadap orang Osing menunjukkan bahwa orang Osing dengan budayanya belum banyak dikenal dan selalu mengaitkan orang Osing dengan pengetahuan ilmu gaib yang sangat kuat. Puputan adalah perang terakhir hingga darah penghabisan sebagai usaha terakhir mempertahankan diri terhadap serangan musuh yang lebih besar dan kuat. Tradisi ini pernah menyulut peperangan besar yang disebut Puputan Bayu pada tahun 1771 M. SEJARAH PERANG BAYU ini jarang di ekspos oleh media sehingga sejarah ini seperti tenggelam.
Dalam perkembangan berikutnya, setelah para petinggi Majapahit berhasil hijrah ke Bali dan membangun kerajaan di sana, Blambangan, secara politik dan kultural, menjadi bagian dari Bali atau, seperti yang diistilahkan oleh beberapa sejarawan, “di bawah perlindungan Bali”. Tetapi, pada tahun 1639, kerajaan Mataram di Jawa Tengah juga ingin menaklukkan Blambangan yang meskipun mendapat bantuan yang tidak sedikit dari Bali menelan banyak korban jiwa; rakyat Blambangan tidak sedikit yang terbunuh dan dibuang (G.D.E. Haal, seperti yang dikutip Anderson, 1982; 75). Blambangan tampak relatif kurang memperlihatkan kekuatannya, di masa penjajahan Belanda, ia justru menampilkan kegigihannya melawan dominasi VOC. Perang demi perang terjadi antara rakyat Blambangan melawan kolonial Belanda. Hingga akhirnya memuncak pada perang besar pada tahun 1771-1772 di bawah pimpinan Mas Rempeg atau Pangeran Jagapati yang dikenal dengan perang Puputan Bayu. Perang ini telah berhasil memporak-porandakan rakyat Blambangan dan hanya menyisakan sekitar 8.000 orang (Ali, 1993:20). Meski demikian, tampaknya rakyat Blambangan tetap pantang menyerah. Perang-perang perlawanan, meski lebih kecil, terus terjadi sampai berpuluh tahun kemudian (1810) yang dipimpin oleh pasukan Bayu yang tersisa, yaitu orang-orang yang oleh Belanda dijuluki sebagai ‘orang-orang Bayu yang liar’ (Lekkerker, 1926:401-402; Ali, 1997:9). Setelah dapat menghancurkan benteng Bayu, Belanda memusatkan pemerintahannya di Banyuwangi dan mengangkat Mas Alit sebagai bupati pertama Banyuwangi.
Blambangan memang tidak pernah lepas dari pendudukan dan penjajahan pihak luar, dan pada tahun 1765 tidak kurang dari 60.000 pejuang Blambangan terbunuh atau hilang untuk mempertahankan wilayahnya (Epp, 1849:247). Anderson (1982:75-76) melukiskan bahwa betapa kekejaman Belanda tak bertara sewaktu menguasai Blambangan terutama dalam tahun 1767-1781. Dengan merujuk catatan Bosch yang ditulis dari Bondowoso, Anderson mengatakan: “daerah inilah barangkali satu-satunya di seluruh Jawa yang suatu ketika pernah berpenduduk padat yang telah dibinasakan sama sekali…”.
Pendudukan dan penaklukan yang bertubi-tubi itu ternyata justru membuat rakyat Blambangan semakin patriotik dan mempunyai semangat resistensi yang sangat kuat. Cortesao, seperti yang dikutip oleh Herusantosa (1987:13), dengan merujuk pada Tome Pires, menyebut “rakyat Blambangan sebagai rakyat yang mempunyai sifat “warlike”, suka berperang dan selalu siap tempur, selalu ingin dan berusaha membebaskan wilayahnya dari kekuasaan pihak lain”. Scholte (1927:146) menyatakan:
“Sejarah Blambangan sangat menyedihkan. Suku bangsa Blambangan terus berkurang karena terbunuh oleh kekuatan-kekuatan yang berturut-turut melanda daerah tersebut, seperti kekuatan Mataram, Bali, Bugis dan Makassar, para perampok Cina, dan akhirnya VOC. Tetapi semangat rakyat Blambangan tidak pernah sama sekali padam, dan keturunannya yang ada sekarang merupakan suku bangsa yang gagah fisiknya dan kepribadian serta berkembang dengan pesat, berpegang teguh pada adat-istiadat, tetapi juga mudah menerima peradaban baru”. Rakyat Blambangan, seperti yang disebut-sebut dalam berbagai sumber di atas, itulah yang selama ini dinyatakan sebagai cikal-bakal wong Osing atau sisa-sisa wong blambangan.
#SUMBER : http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Osing